AMICUS CURIAE : suatu bentuk lain dari Derden Verzet?

Pembaca yang budiman,

Kali ini kami ingin berbagi tentang salah satu bentuk intervensi pihak ketiga

yang jarang terdengar namun beberapa kali terjadi pada proses peradilan di Indonesia, yaitu AMICUS CURIAE.

AMICUS CURIAE. Apakah itu? Belakangan ini 2 kata tsb menjadi suatu hal yg mungkin baru didengar krn jarang sekali diaplikasikan di Indonesia, terutama kasus yg sedang dihadapi oleh organisasi Advokat Indonesia, PERADI. Arti AMICUS CURIAE atau Friends of the Court atau Sahabat Pengadilan adalah pihak-pihak yg merasa berkepentingan terhadap suatu perkara, memberikan pendapat hukumnya kepada pengadilan (hukumpedia) namun hanya sebatas memberikan opini, bukan melakukan perlawanan seperti derden verzet.

Lazimnya AMICUS CURIAE dilakukan di negara yg menganut sistem hukum common law, bukan civil law seperti dianut oleh Indonesia. Namun di negeri kita, hal ini pernah dilakukan ketika terjadi AMICUS CURIAE diajukan pada antara lain kasus jurnalis Upi Asmaradhana, kasus Majalah Time vs Soeharto.

Apa dasar hukum diterimanya AMICUS CURIAE di Indonesia? Yaitu pasal 5 atayt (1) UU No.48 th 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman yang menyatakan sbb ” Hakim dan Hakim Konstitusi wajib menggali, mengikuti, dan memahami nilai nilai hukum dan rasa keadilan yg hidup dalam masyarakat”.

Ada pendapat bahwa AMICUS CURIAE memang sudah diakui di Indonesia yakni dalam persidangan pengujian undang-undang di Mahkamah Konstitusi (MK). Dalam hukum acara MK, pihak ketiga yg berkepentingan bs mendaftarkan diri dan memberikan pendapat dlm sebuah pengujian undang-undang yg diajukan oleh orang lain.

Have a good day.

Ferdinand Purba
Advokat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *